Rindu Berakhir

“Aku pergi. Cermin tahu alasannya.Dan rindu mu akan tuntas” 

Kau hilang diantara kerumunan manusia. Menumbuhkan rindu tanpa pamit. Purnama telah menuakan hari. Menggantungkan rindu yang menutupi langit-langit angan. Hingga tak tersisa angan untuk melihat mu datang. Pecah tak berbekas ketika menghampiri cermin. 

Rindu ku tuntas untuk selamanya. 

Aku menemukan diri ku dalam cermin.

Alasan mu. 

Lalu tidak ada lagi alasan untuk menanti mu.

Iklan

Membeku Dalam Rindu

Terjerat dalam kurun waktu. Membeku dalam rindu. Karenanya. 

Kemarin angin utara menyentuh malam tanpa lentara, ketika sunyi masih menjadi latar utama dalam rindu. Ada sepenggal kisah yang menghampiri. Kisah yang menyeret ingatan untuk memecah misteri yang selama ini tertinggal olehnya.

Angin itu meniupi setiap ingatan dengan kisah rahasianya. Hingga ada sebongkah ingatan yang terkelupas dari selaput lupa. Kisah yang hilang dalam ingatan. Kembali menyempurnakan kunci untuk membuka misteri.

“Aku pergi untuk menjemput Rindu. Hingga rembulan bisa aku dapatkan. Aku akan pulang” Ucapnya. 

Perkataan terakhirnya. Adalah kunci yang hilang. Kejamnya waktu membuat kata terakhir itu nyaris tidak pernah terucap. 

Rindu telah tiba. Lalu, sudahkah kau mendapatkan rembulan? 

Kau pergi. Dan tidak akan pernah kembali untuk pulang. Aku bodoh menanti mu dalam rindu, menjaga rembulan dalam setiap malam. Bukankah, manusia tidak dapat membawa rembulan pulang dalam genggaman. 

Kau pergi, meninggalkan aku yang tergantung dalam misteri ucapan terakhir mu. 

Ruang Untuk 2017

Januari – Desember, bulan-bulan  yang menetap pada kalender yang terpaku ditembok itu tidak pernah bosan mengubah tahun. Mengantarkan pada usia bumi yang terus menua. 

Renta sudah usia bumi. Menua dan menuakan manusia. Tampaknya penghuni bumi kalah hebat dengan tempat yang dihuninya. Tidak tertangkap sedikit pun penuan pada bumi, jelasnya penuan pada manusia yang merentakan bumi.

Kemarin langit malam menyayingi bunglon, menampakan perubahan warna yang lebih indah dari bunglon. Ah, namun langit malam tak bersembunyi seperti bunglon. Ia memperlihatkan segalanya. Tentang bumi yang menua, tentang bulan-bulan yang mengganti tahun kalender, dan tentang mengajak manusia untuk menerbangkan harapan-harapannya.

Langit sudah membuka bentangan baru, untuk saksi siklus kehidupan yang baru. Untuk ruang 2017. Lalu, manusia-manusia sudah mengajak langit menyaksikan harapan-harapan yang baru lahir diawal 01 Januari 2017.

Jangan Lupa Pulang

Cahaya itu muncul. Tepat didepan bola mata. Aku dapat menangkapnya. Pintu telah dibuka, alam diluar sana memanggil dengan antusias. Tidak adakah pembuas kehidupan diluar sana? Bolehkah aku menapaki alam? 

Ayah, Bunda ada apa dengan kalian? Kunci pintu telah dicuri oleh seseorang dan membukanya dengan lebar, kah? Tanpa menutupi alam diluar sana sedikit pun.

Pintu menelanjangi alam. Aku takut melihatnya. Bukankah kalian ingin aku menjauhinya. Lalu mengapa kini kalian memperlihatkannya pada ku?

Bunda, mengapa sekarang kau melepas jepit berbentuk permen dari rambut ku ini? Bukankah setiap waktu kau ingin menatap jepit itu mendiami rambut ku.

Ayah, ada apa ini. 

“Jangan hanya kau melihat pintu itu, lihatlah kau sudah berbeda dengan diri mu difoto ini. Diri mu yang kecil, yang masih berlari dengan balon, dan selalu ingin ditemani. Sekarang kau sudah berubah Nak, sudah waktunya kau menamani seseorang. Sama halnya seperti Ibu dan Ayah yang menemani mu”

“Pergilah, waktu telah berputar dengan cepat. Dunia mu telah di buka”

“Dan jangan lupa untuk pulang”

Menanti Dalam Musim

Ketidaktahuan pada putaran waktu atau aku saja yang mengabaikan semua jam yang ada. Entah, telah berapa musim yang terlawati untuk menghitung pundi-pundi rindu untuknya. Rindu yang mengakar tanpa pernah mendapatkan bunga indah untuk terus tumbuh. Mungkin, rindu ini salah. Atau waktu yang salah. Atau aku yang salah menjatuhkan hati?

Jika saja waktu terhenti, bolehkah aku mencurinya dalam larian hidup yang selalu membawa misteri. Lalu, dimana letak indahnya jatuh hati jika aku mencurinya? Bukankah mencuri menoda hitamkan ketulusan hati. 

Ah, aku lupa. Bukankah jatuh hati memiliki keterbatasan? Keterbatasan untuk menerka hasil akhir. Jatuh hati yang memberdirikan indahnya hari atau jatuh hati yang menjatuhkan hari hingga retak. 

Biarkan musim yang menjawabnya..

Biarkan aku mengabaikan waktu.

Cermin Yang Mencerminkan Mimpi

Diantara manusia-manusia aku hidup. Dibawah langit, aku mencari mimpi-mimpi. Dan diatas bumi, aku menemukan langit. Lalu berada dimana mimpi ku?

Kala itu .. Di perbatasan sore dan malam. Angsa menemani ku, membawa ku pada danau di barat sana. Lalu ia pergi, berlari menuju danau. 

Dia meninggalkan aku, sendiri. Sendiri dalam kabut diri yang menerawang berada dimana mimpi.

Entahlah, angsa itu begitu aneh. Menatap ku, lalu menatap jernihnya air danau. 

Angin, menuntun ku menuju danau. Disana, kilau jingga langit sore menghias danau. Cahaya mulai hilang, sedikit demi sedikit.

Hingga aku menemukan samar-samar cermin diri ku pada danau. Sungguh indah. Ada cerminan diri ku disana, berlatarkan langit sore yang indah. Dengan warna awannya yang seperti warna kastil istana.

Ah, angsa aku mengerti. Aku telah menemukannya. Pada diri ku mimpi-mimpi ku tinggal, dan bentangan langit adalah kertas penuh majic dari Sang Maha Pencipta untuk aku titipkan mimpi. Setiap saat, ketika aku menatap langit .. Aku menemukan mimpi-mimpi ku. Dan disaat itu pula aku selalu berusa untuk menjemput mimpi yang tertitip pada langit.

Aku hanyalah seorang anak manusia, yang selalu bermimpi menjadi seorang penulis. Yang memiliki novel-novel luar biasa seperti bang Tere. Yang menginspirasi manusia-manusia untuk menitipkan mimpinya pada langit, lalu menjemputnya.

Dimana Kau?

Kala itu, ketika rajutan Bunda masih menjadi yang terhangat. Lalu, dia. Entah siapa. Datang, membawa rajutannya. Coklat muda, warna rajutannya. 

Bintang memanglah melebihi umur ku jumlahnya. Namun rembulan diatas sana .. Cahayanya menerangi wajah. Melebihi cahaya apapun untuk menegaskan telah berapa lama wajah ini berada pada bumi. Cukup lama. Telah cukup untuk sendiri. 

Sendiri .. 

Jangan bawa aku pergi, sekarang aku masih ingin menghitung bintang-bintang. Menghitung hari bersama Bunda. 

Lalu ia pergi. 

Setahun, dua tahun, bertahun-tahun sudah, ia tak pernah muncul. Hingga bintang membentuk wajahnya pada langit malam. Dia telah berada diatas bersama bintang. Dia pergi. 

Dimana kau .. 

Ah, sekarang aku sakit melihat bintang. Aku lupa menghitung hari bersama dia. Aku lupa jika ia juga sama seperti Bunda. Seorang manusia yang memiliki batasan umur. Entah sampai kapan batasnya. 

Aku menyesal, menemani bintang yang tak pasti. 

Di Atas Putaran

Jangan sekalipun kau bertanya, menatap dengan selidik. Menerka keadaan hati yang tak ingin diterjemahkan. Telah aku jawab kala itu. Hanya diri mu saja yang tak menyadarinya.

“Kau tau, bermain wahana ini menyakitkan. Andai selalu berada diatas agar dapat melihat kebahagian”

Tak ingatkah perkataan ku ini? Ketika malam memulai bicara, aku menatap bintang-bintangnya, bulannya. 

Malam sama bisunya dengan kau. Hanya menatap ku. 

Aku tahu, malam berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam. Hingga tiba masa malam datang.

Bolehkah aku tetap berada diatas? Tak usah berganti posisi. Aku nyaman berada ditengah kebahagian. Jangan sesekali malam menyeret ku berada dibawah. Dan ketika mentari terbit, aku membuka mata menemukan hilangnya bahagia yang menyelimuti. Sunggguh aku tak ingin itu terjadi. 

Boleh aku tak berputar? Boleh aku egois?

Diantara Ilalang

Diatas batu, kau berdiri tegak. Menatap pepohonan yang berbaris dengan jarak antar lain. Kau mencari celah disana. 

“Jika legenda datang, dan aku tokoh utama. Kau ingin menjadi apa?”

“Demi masa legenda akan datang”

“Kau akan menjadi apa?”

“Aku tetap menjadi aku”

Kau melihat salah satu pohon disana. Dan kau menatap matahari. Sinarnya jatuh pada wajah mu yang tak hidup. Kau tak hidup, hati kau, jiwa kau. Mati .. Oleh harapan.

“Bahkan ketika aku menjadi matahari, atau pohon gagah itu?”

“Aku tetaplah menjadi aku”

“Ah, sebenarnya bukan kau”

“Lalu ..”

“Hati mu”

Aku pergi, menjauh. Dan bersembunyi diantara ilalang-ilalang. Karena suara ku adalah alasannya bertahan. Aku tak ingin telinganya merekam suara ku, karena ia tak akan bisa melepaskan ku. Sekalipun suara ku menjawab “tidak”. Ia tak akan mundur.

Karena sepanjang masa ingin merubah suara ku berkata “ia”.

Maka .. Maafkan aku yang menghilang diantara ilalang dan tak meninggalkan suara untuk kau bertahan. Agar kau menyerah diantara pepohonan. Dan menerbangkan rasa untuk ku bersamaan dengan guguran dedaunan. 

Bertemu dengan rangkaian tulisan indah adalah takdir mutlak, karena pada bumi abjad-abjad adalah teman hidup. Selamanya. Pilihan terindah, ketika hari-hari ditemani oleh imajinasi. Merangkai eloknya dunia lain.

Dan jatuh cinta pada tulisan-tulisan indah, aku tak mampu menahannya.

Aku telah jatuh cinta pada karya indah dari goresan imajinasi Tere Liye pada novel-novelnya.